Kemarin, seorang teman mengirimkan sebuah link berita berjudul Pembina Pramuka Cabuli 11 Murid SMP di Banyumas. Dari judul beritanya saja kita bisa mengetahui jelas kejadian apa yang diceritakan dalam berita tersebut. Saya geram ketika mengetahui seorang guru yang sepatutnya mengayomi dan mendidik muridnya justru melakukan tindakan asusila seperti binatang.

Tak berapa lama, kejadian tersebut ditayangkan dan diliput sebuah stasiun televisi dalam acara berita kriminal. Sang pembina pramuka ternyata sudah melakukan aksi bejatnya sejak 2016 kepada seorang murid laki-laki. Namun karena tidak ada aduan dari pihak korban, perbuatannya tidak ketahuan. Di tahun 2017, ia mengulangi perbuatan itu kepada dua orang murid laki-laki. Namun lagi-lagi tidak ketahuan karena kedua murid tersebut tidak menceritakan kejadian itu kepada siapapun.

Dengan penuh keyakinan aksinya tidak akan diketahui siapapun, ia berniat melakukannya lagi di tengah kegiatan pramuka yang diselenggarakan di sekolah malam hari. Kali ini prediksinya tidak tepat. Perbuatannya akhirnya terkuak ketika salah seorang murid yang menjadi korban malam itu melaporkannya kepada orang tua.

Orang tua murid yang berang atas segera melaporkannya kepada pihak sekolah. Kemudian pihak sekolah memanggil tersangka dan memintanya untuk mengakui perbuatan itu. Karena terus didesak, pelaku akhirnya mengaku telah melakukan tindakan asusila kepada 8 orang muridnya di tengah kegiatan pramuka. Akibat perbuatan itu, tersangka diringkus kepolisian dan diancam hukuman 5 – 15 tahun penjara.

Namun dengan ditangkapnya pelaku, apakah masalah ini sudah selesai ?

Seorang psikolog senior yang mendampingi salah satu murid yang menjadi korban menceritakan bahwa para murid yang menjadi korban pencabulan mengalami perubahan karakter. Ada yang tiba-tiba menjadi pendiam, ada yang berubah jadi pemarah, dan ada yang sikapnya kelihatan feminim. Perubahan perilaku tersebut menguatkan dugaan bahwa para korban mengalami trauma pasca kejadian itu.

Peristiwa tersebut tidak semudah itu terhapus begitu saja dari ingatan para korban. Dampaknya mungkin masih bisa dirasakan oleh para korban beberapa tahun mendatang atau bahkan seumur hidup, tergantung bagaimana korban menanggapi kejadian tersebut dan menjalani proses pemulihannya.

Jika korban terbuka menceritakan kejadian tersebut, mendapat dukungan dari orang sekitarnya, dan menjalani terapi pemulihan trauma, maka korban bisa pulih lebih cepat. Namun jika bersikap tertutup dan tidak mendapat dukungan positif dari orang sekitarnya, maka korban akan mengalami kesulitan untuk pulih dari traumanya. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika para korban ini akan menjadi pelaku di kemudian hari. Contohnya sudah jelas, pembina pramuka yang menjadi pelaku dalam kasus pencabulan tersebut mengaku pernah menjadi korban pencabulan juga saat dirinya masih TK. Inilah yang kita khawatirkan tentang bahaya perilaku penyimpangan seksual terhadap anak di bawah umur. Dampaknya bisa berkepanjangan.

Sebagai orang tua, kita memiliki tanggung jawab untuk melindungi anak kita dari hal-hal negatif yang bisa mengganggu proses tumbuh kembangnya. Perilaku penyimpangan seksual terhadap anak di bawah umur merupakan tindakan keji yang membahayakan diri anak-anak kita. Sudah sepatutnya orang tua mengupayakan berbagai cara untuk menjauhkan anak dari kekerasan seksual dalam bentuk apapun. Berikut ini beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk menghindari anak dari resiko tersebut :

1. Ajarkan Anak Tentang Aurat

Aurat adalah bagian tubuh paling privasi yang tidak boleh diperlihatkan kepada sembarang orang. Mengajarkan anak tentang aurat merupakan pondasi untuk membangun pemahaman tentang pentingnya menjaga aurat dari dilihat dan disentuh oleh orang asing. Menurut pandangan Islam, aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan, sedangkan aurat laki-laki adalah area pusar hingga lutut. Beritahukan kepada anak bahwa aurat adalah bagian tubuh yang tidak boleh diperlihatkan dan disentuh oleh orang lain, begitu pun sebaliknya anak tidak boleh memandang dan menyentuh aurat orang lain sembarangan.

Saya baru mendapat tulisan mengenai Hormati Aurat Anak dari salah satu cerita grup WA. Penulis cerita itu adalah seorang wanita yang menyaksikan peristiwa dimana anak-anak perempuan hampir menjadi korban pelecehan seksual pria dewasa karena pakaian yang mereka kenakan. Ada anak perempuan yang bagian intimnya menjadi tontonan pedagang mainan karena ia berjongkok tanpa menggunakan short pants atau celana stocking, ada juga anak perempuan yang tubuhnya menjadi tontonan seorang bapak di kolam renang karena ia berganti pakaian di kolam renang tanpa ditutupi apapun. Ini berarti pakaian yang dikenakan anak-anak dapat menjadi salah satu faktor yang mengundang tersangka kejahatan seksual melakukan perbuatan asusila.

Selain memberitahu anak tentang aurat dan pentingnya menutupi bagian tubuhnya agar tidak dilihat orang lain, kita juga harus mencermati pakaian yang digunakan anak di tempat umum. Pastikan pakaian mereka tidak memancing orang lain melakukan tindak kejahatan.

2. Mengajarkan Anak Menjaga Dirinya Sendiri

Setelah anak memahami tentang aurat, selanjutnya ajarkan anak untuk menjaga dirinya sendiri apabila menghadapi ancaman dari luar. Sampaikan untuk menjaga jarak dari orang yang tidak dikenal.

Seperti yang dijelaskan oleh Bunda Elly Risman dalam sebuah video tentang mencegah anak dari bahaya pelecehan seksual, yang perlu anak lakukan ketika ada orang lain mulai menyentuh bagian pribadi anak adalah berteriak dengan keras sehingga membuat yang bersangkutan terkejut dan tidak berani lagi mengulanginya.

Sampaikan kepada anak untuk tidak pergi ke tempat-tempat sepi seorang diri karena ancaman yang terjadi akan semakin tinggi ketika anak berpergian sendiri tanpa pengawasan orang tua atau pengasuhnya.

Latih kepekaan anak menangkap situasi darurat ketika berkunjung ke tempat ramai. Sampaikan kepada anak untuk tidak berbicara dan mengikuti orang asing. Anak harus tetap berada dekat dengan orang tua di tempat ramai demi menghindari kejahatan yang tidak diinginkan.

Ketika pulang sekolah, sampaikan kepada anak untuk menunggu yang menjemputnya dan tidak mengikuti ajakan dan iming-iming dari orang asing.

3. Jalinlah Komunikasi yang Baik Dengan Anak

Keterbukaan dalam berkomunikasi merupakan indikator terjalinnya hubungan yang baik dengan anak. Ketika anak menceritakan semua pengalaman yang dia alami tanpa beban, bersyukurlah karena anak percaya kepada orang tuanya.

Anak-anak yang memiliki kedekatan emosional dengan kedua orang tuanya akan lebih terbuka menceritakan pengalaman pribadinya, tentang apa yang dia alami, mulai dari hal yang membuatnya merasa senang maupun sedih. Dengan keterbukaan itu, anak-anak akan berterus terang jika ada yang membuatnya merasa tidak nyaman sehingga kita bisa mengantisipasi dan menindaklanjuti hal-hal yang mengancam keselamatan anak

4. Hindari Memposting Informasi dan Foto-foto Pribadi Anak di Medsos

Bijaklah dalam menggunakan sosial media. Kita harus memilah milih informasi apa yang boleh dan tidak boleh di share. Terkadang kasus kejahatan yang menimpa anak-anak bisa disebabkan karena kecerobohan orang tua memposting informasi dan foto-foto pribadi anak di sosial media. Beberapa kasus penculikan anak yang terjadi disebabkan karena penculik mengetahui informasi dan aktivitas anak dari sosial media orang tuanya.

5. Bersosialisasi Dengan Lingkungan Sekitar

Manusia adalah makhluk sosial sehingga akan menjadi tangguh saat berkelompok. Jalinlah hubungan sosial yang baik dengan tetangga sekitar, manfaatkan modal sosial yang ada. Kembangkanlah community parenting dimana terjadi saling pengawasan antara orang tua dan anak-anak yang tinggal di suatu wilayah tempat tinggal. Kita harus mengetahui teman main anak kita, siapa orang tuanya, dan dimana mereka biasanya bermain. Kita harus memastikan tempat main anak-anak di sekitar rumah aman dari gangguan pelaku kekerasan seksual dan kejahatan lainnya.

Bersosialisasilah dengan komunitas dimana anak bersekolah. Kita perlu mengetahui siapa guru-guru mereka, siapa teman-teman mereka, ektrakurikuler apa yang diikuti oleh anak, dan aktivitas apa yang mereka lakukan di sekolah. Dengan mengetahui lingkungan pergaulan anak, kita bisa mengantisipasi dan menindaklanjuti segera kejadian yang tidak diinginkan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *